Jakarta – Direktorat Jenderal Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menggelar pertemuan strategis bertajuk “Konsolidasi Penguatan Kebijakan Penataan Ruang yang Adaptif terhadap Risiko Bencana Hidrometeorologi” pada Rabu (21/01/25).
Bertempat di Ruang Rapat Prambanan, Gedung Ditjen Tata Ruang, Jakarta, pertemuan ini menjadi tindak lanjut nyata dalam memperkuat aspek resiliensi wilayah dalam penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR). Agenda ini melibatkan jajaran pakar dan akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengintegrasikan pendekatan sains dan teknologi ke dalam kebijakan publik.
Direktur Jenderal Tata Ruang, Suyus Windayana, menyampaikan bahwa mitigasi bencana pada prinsipnya telah terintegrasi dalam kerangka penataan ruang. Oleh karena itu, penguatan ke depan diarahkan pada peningkatan kualitas analisis dan implementasi melalui pemanfaatan teknologi, agar pengendalian pemanfaatan ruang serta perhitungan daya dukung dan daya tampung lingkungan dapat dilakukan secara lebih presisi. Menurutnya, pendekatan berbasis data dan proyeksi menjadi penting tidak hanya untuk ketahanan bencana, tetapi juga dalam mendukung ketahanan pangan dan energi.
Dari pihak ITB, hadir delegasi yang dipimpin oleh Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Dudy Darmawan Wijaya, yang didampingi oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FITB Rusmawan Suwarman dan Lektor FITB Andri Hernandi. Selain itu, hadir pula jajaran pakar dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), yakni Denny Zulkaidi, Nurrohman Wijaya, serta Sugiyantoro.
Selengkapnya di tataruang.atrbpn.go.id
#BersamaMenataRuang #DitjenTataRuang
