
Berau, 08 Agustus 2026 — Zona Merah Putih — Kampung Dumaring di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, bersiap menggelar hajatan besar bertajuk Festival Rindu Dumaring (FRD) 2026. Mengusung tema “Menyulam Rindu, Menyemai Warisan”, event akbar yang memasuki penyelenggaraan kedua ini dirancang istimewa dengan rangkaian kegiatan selama sebulan penuh, mulai dari pembukaan (kick-off) pada 8 Agustus 2026 hingga acara puncak pada 5 September 2026.
Festival ini diinisiasi oleh Program Kolaborasi Konservasi Hutan dan Sungai Dumaring sebagai wujud pesta rakyat berbasis budaya. Tujuannya tidak hanya merayakan warisan leluhur dan kekayaan alam, tetapi juga menjadi langkah konkret (affirmative action) untuk merevitalisasi budaya asli Dayak Dumaring di tengah arus modernisasi dan akulturasi yang kian masif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
📌 Latar Belakang dan Tujuan Strategis FRD 2026
FRD merupakan sebuah pesta rakyat berbasis budaya yang digagas oleh Program Kolaborasi Konservasi Hutan dan Sungai Dumaring (Program Kolaborasi). Event ini pertama kali diselenggarakan pada Agustus 2023, dan tahun 2026 merupakan penyelenggaraan kedua yang ke depannya akan diagendakan sebagai event rutin setiap dua tahun sekali.
FRD hadir untuk merayakan dan mensyukuri karunia Tuhan berupa alam beserta isinya, serta warisan leluhur berupa budaya dan pengetahuan luhurnya.
🎯 Enam Tujuan Strategis FRD 2026:
1. Tindakan Afirmatif (Affirmative Action): Bentuk keberpihakan nyata bagi masyarakat asli Dumaring untuk merevitalisasi budaya asli Dayak Dumaring dalam semangat kebhinekaan.
2. Ruang Temu Terbuka: Menciptakan ruang interaksi terbuka bagi lintas generasi, lintas etnis, dan lintas agama dalam suasana kebersamaan dan kegembiraan.
3. Kebanggaan Kolektif: Membangun dan merawat kebanggaan kolektif masyarakat atas diri, budaya, kampung halaman, dan alam lingkungan.
4. Penghormatan kepada Leluhur: Menguatkan penghormatan terhadap para leluhur yang mewariskan norma dan pengetahuan luhur.
5. Kecintaan terhadap Alam: Membangun kecintaan masyarakat terhadap alam sebagai penyangga kehidupan berbasis kearifan lokal.
6. Promosi Budaya & Pariwisata: Mengangkat kekayaan seni budaya, pariwisata, dan karya masyarakat Dumaring ke kancah yang lebih luas.
🎨 Konsep, Tema, dan Rangkaian Acara Sebulan Penuh
Mengusung tema “Menyulam Rindu, Menyemai Warisan”, FRD 2026 juga bertepatan dengan perayaan Hari Masyarakat Adat Sedunia (International Day of the World’s Indigenous Peoples) yang diperingati setiap 9 Agustus.
Berbeda dari penyelenggaraan pertama tahun 2023 yang berlangsung satu hari, FRD 2026 hadir selama sebulan penuh dengan berbagai agenda menarik:
1. Kirab budaya (titik mulai di halaman depan SDN 001 Dumaring dan berakhir di area entrance serta parkir TSD)
2. Pertunjukan seni budaya
3. Lomba permainan tradisional, keterampilan tradisional, dan seni budaya
4. Sesi belajar keterampilan tradisional langsung kepada maestro (tetua masyarakat asli Dumaring)
5. Sesi belajar kecakapan bersama praktisi profesional bagi warga kampung wisata
6. Lomba karya seni kontemporer (fotografi dan videografi) tentang alam, budaya, kehidupan, serta destinasi wisata Dumaring
7. Sajian kuliner khas Dumaring dan produk unggulan UMKM (dine-in maupun take-away)
📍 Lokasi Penyelenggaraan
Pusat kegiatan dipusatkan di area Taman Sungai Dumaring (TSD) yang terbagi ke dalam tiga kluster utama:
1. Area dalam TSD
2. Area entrance dan parkir TSD
3. Balai LPHD
🗣️ Suara Tokoh dan Pihak Penyelenggara
Ketua Penyelenggara FRD 2026, Bu Nana Sumanah, menyampaikan bahwa festival ini dirancang sebagai ruang temu terbuka lintas generasi, etnis, dan agama.
“FRD 2026 hadir sebagai perayaan warga yang tumbuh dari tanah, tradisi, dan napas kebudayaan Dumaring. Bersama-sama, kita menyulam kembali kenangan dan menyemai masa depan untuk melestarikan warisan Dumaring dalam suasana penuh kebersamaan dan kegembiraan,” ungkap Bu Nana.
Kepala Kampung Dumaring, Salehuddin, menambahkan bahwa FRD menjadi wadah penting untuk menjaga tradisi sekaligus menggerakkan roda perekonomian warga.
“Selain untuk menjaga dan melestarikan budaya, kegiatan ini pendorong dari sisi ekonomi. Harapan kami kunjungan wisatawan bisa meningkat dan festival ini makin dikenal luas, bukan hanya di Kabupaten Berau saja,” ujar Salehuddin.
Dukungan senada disampaikan oleh Camat Talisayan, Mutmainnah, S.E. Ia meyakini momen festival ini membawa dampak positif bagi 10 kampung di wilayah Talisayan dalam mempromosikan potensi lokal dan produk UMKM.
“Kampung yang melaksanakan memang Kampung Dumaring, tetapi tidak menutup kemungkinan 9 kampung lainnya ikut meramaikan. Ini bisa menjadi ajang promosi (publish) bersama, menambah penghasilan UMKM, serta memperluas paparan potensi wisata kita,” ungkap Bu Camat Talisayan.
👥 Pihak yang Turut Hadir & Kolaborasi Kepanitiaan
1. Daftar Tamu & Pihak Terkait: Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Berau, Camat Talisayan, Kepala Kampung Dumaring beserta jajarannya, BPK Dumaring, Kepala Adat dan tokoh adat, perwakilan perusahaan PT. TBPP, KLK Grup (PT. Jabontara, PT. Hutan Hijau Mas) dan PT. BKNs , serta warga lokal dan wisatawan.
2. Kepanitiaan Kolaboratif: Dirancang oleh Program Kolaborasi bersama ACR Innovative Management (EO Profesional), EO Lokal (angkatan muda Dumaring & pengurus Pokdarwis), lembaga mitra, serta staf Pemerintah Kampung Dumaring.
🌿 Menelusuri Sejarah, Miniatur Nusantara, dan Alarm Kritis Identitas Lokal
Kampung Dumaring yang telah berdiri selama 236 tahun (pada 2026) mencatatkan sejarah panjang sebagai kampung tua yang menjadi saksi dinamika era Kesultanan hingga Era Kemerdekaan.
Sebagai Miniatur Nusantara, Dumaring dihuni oleh 2.088 jiwa (731 keluarga) dari beragam etnis (Dayak Dumaring, Bugis, Makassar, Mandar, Kaili, Bajo, etnis NTT, Bima, Madura, Jawa, Sunda). Kendati memperkaya toleransi, arus akulturasi yang masif memicu tantangan serius bagi populasi Dayak Dumaring murni/campuran parsial yang kini tersisa kurang dari 60 keluarga (\approx 200 jiwa). Pengetahuan genealogi dan penguasaan bahasa asli kian meredup di kalangan generasi muda.
Selain kekayaan budayanya, Dumaring menyimpan potensi alam luar biasa berupa Gua & Tebing Karst purba (Sangkulirang-Mangkalihat), Hutan Mangrove (5,5 km), serta Hutan Hujan Tropis yang kini menghadapi tantangan alih fungsi lahan.
🎯 Harapan Besar FRD 2026
Melalui penyelenggaraan FRD 2026, warga dan panitia menaruh harapan besar agar festival ini sukses merajut solidaritas, melestarikan alam berbasis kearifan lokal, memperluas promosi pariwisata, dan resmi masuk ke dalam Calendar of Event Pemerintah Kabupaten Berau mulai tahun 2027 dan seterusnya.
Biro ZMP Berau — Abdul Mansur







