
JAKARTA – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, ancaman kejahatan siber semakin mengkhawatirkan. Tidak hanya berdampak secara fisik, kejahatan di ruang digital juga meninggalkan luka psikis yang kerap tersembunyi, terutama pada anak-anak dan remaja.
Berbeda dengan luka fisik yang mudah dikenali dan diobati, dampak psikologis akibat interaksi negatif di internet sering kali tidak terdeteksi sejak dini. Kondisi ini menuntut peran aktif keluarga sebagai garda terdepan dalam memberikan perlindungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Membangun rasa aman dan kepercayaan harus dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua diharapkan mampu menciptakan ruang yang nyaman agar anak merasa terbuka untuk menceritakan pengalaman mereka saat berselancar di dunia maya, baik yang positif maupun yang berpotensi membahayakan.
Komunikasi dua arah menjadi kunci utama dalam mencegah anak terjerumus ke dalam ancaman digital. Dengan keterbukaan tersebut, orang tua dapat lebih cepat memahami kondisi anak dan memberikan pendampingan yang tepat.
Selain itu, langkah pencegahan seperti mengaktifkan fitur parental control serta memberikan edukasi terkait etika dan keamanan berinternet sejak dini dinilai sangat penting. Hal ini bertujuan untuk membekali generasi muda agar lebih bijak, waspada, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
Dengan adanya kesadaran dan kerja sama antara orang tua dan anak, diharapkan tercipta ekosistem digital yang lebih aman, sehingga risiko kejahatan online dapat ditekan sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.















