Ditjen PPTR Kementerian ATR/BPN dan Bareskrim Polri Perkuat Sinergi Penegakan Hukum Penataan Ruang Melalui Perjanjian Kerja Sama

- Penulis

Kamis, 25 Juni 2026 - 22:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Upaya penegakan hukum di bidang penataan ruang membutuhkan kolaborasi yang semakin kuat di tengah masih ditemukannya berbagai pelanggaran pemanfaatan ruang di sejumlah wilayah. Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) melalui Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang (Ditjen PPTR) bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Sinergisitas dalam Penegakan Hukum Bidang Penataan Ruang pada Jumat, (12/6/2026).

Perjanjian Kerja Sama ini ditandatangani secara langsung oleh, Direktur Jenderal PPTR, Lampri, serta Kepala Bareskrim Polri, Komisaris Jenderal Polisi Syahardiantono. Kerja sama diarahkan untuk memperkuat koordinasi, memperjelas mekanisme penanganan perkara, dan meningkatkan efektivitas penegakan hukum terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang.

Pada kesempatan ini, Dirjen Lampri menekankan bahwa penegakan hukum terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang akan lebih mengedepankan penerapan sanksi administratif. Sementara sanksi pidana tetap diberlakukan sebagai upaya terakhir atau ultimum remedium. Pihaknya juga menegaskan bahwa sinergi antara ATR/BPN dan Polri menjadi kebutuhan penting untuk memastikan pengendalian pemanfaatan ruang berjalan lebih optimal dan memberikan kepastian hukum.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Penataan ruang tidak hanya berbicara mengenai perencanaan, tetapi juga bagaimana memastikan pemanfaatan ruang berjalan sesuai ketentuan. Karena itu, sinergi dengan Polri menjadi langkah strategis untuk memperkuat penegakan hukum, meningkatkan kepatuhan, dan memberikan efek jera terhadap pelanggaran yang berpotensi merugikan masyarakat maupun lingkungan,” ujar Lampri.

Ia menambahkan bahwa kerja sama ini diharapkan mampu memperkuat peran masing-masing institusi dalam menangani pelanggaran pemanfaatan ruang, mulai dari pengawasan, penertiban, hingga proses penegakan hukum apabila diperlukan.

Direktur Penertiban Pemanfaatan Ruang, Agus Sutanto, menjelaskan bahwa dalam praktiknya telah ditemukan sejumlah pelanggaran pemanfaatan ruang yang memenuhi unsur pidana. Namun demikian, pemerintah tetap mengedepankan pendekatan administratif sebagai instrumen awal penegakan hukum.

Baca Juga:  Kunjungi Dua Kantah di Sumut, Wamen Ossy Monitoring Kesiapan WBBM hingga Serahkan Sertipikat kepada Masyarakat

“Pada beberapa kasus memang terdapat pelanggaran yang telah memenuhi unsur pidana. Namun pendekatan yang kami dorong adalah penerapan sanksi administratif terlebih dahulu. Apabila instrumen tersebut tidak efektif dan pelanggaran tetap berlangsung, maka proses dapat ditingkatkan ke tahap penyidikan,” jelas Agus.

Menurutnya, penegakan hukum penataan ruang juga harus mempertimbangkan aspek kemanfaatan dan dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat.

“Setiap kasus memiliki karakteristik yang berbeda. Untuk bangunan yang berada di kawasan rawan bencana, pembongkaran menjadi pilihan yang lebih tepat demi keselamatan masyarakat. Namun terhadap kegiatan industri yang memberikan manfaat ekonomi dan menyerap tenaga kerja, pendekatannya dapat melalui pengenaan denda terlebih dahulu. Setelah kewajiban kepada negara dipenuhi sesuai ketentuan, barulah dapat dipertimbangkan langkah penyesuaian tata ruang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bareskrim Polri, Komisaris Jenderal Polisi Syahardiantono, menekankan bahwa kerja sama yang dibangun tidak boleh berhenti pada dokumen formal, melainkan harus diterjemahkan ke dalam langkah-langkah konkret di lapangan.

“Perjanjian Kerja Sama ini harus ditindaklanjuti dengan duduk bersama dan mensinergikan langkah-langkah konkret. Salah satunya melalui sosialisasi agar seluruh jajaran memiliki pemahaman yang sama terhadap mekanisme kerja sama yang akan dijalankan,” kata Syahardiantono.

Ia berharap sinergi yang dibangun dapat memberikan manfaat nyata dalam mendukung penegakan hukum penataan ruang yang lebih efektif dan terkoordinasi.

“Intinya, Perjanjian Kerja Sama ini harus memberikan manfaat. Dengan koordinasi yang semakin kuat, penanganan pelanggaran penataan ruang diharapkan dapat berjalan lebih optimal dan memberikan kepastian hukum bagi masyarakat,” pungkasnya.

#DitjenPPTR
#PengendaliandanPenertibanTanahdanRuan g
#KementerianATRBPN
#ATRBPN
#MelayaniProfesionalTerpercaya

Tim Publikasi, Ditjen Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel suararevolusi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kejari Rokan Hulu Selamatkan Rp1,38 Miliar Keuangan Negara dari Perkara Korupsi
Diduga Kerjasama Notaris & Pengembang Abaikan Sistem OSS, Langgar Hukum, Kode Etik Hingga Pemecetan.
Lantik 78 Pejabat Struktural, Wamen Ossy: Rotasi dan Promosi Jabatan Bentuk Birokrat yang Adaptif
Dampingi Presiden Prabowo Panen Raya di Malang, Menteri Nusron: Ketahanan Pangan Butuh Kepastian Hukum Tanah
Lulus Ujian CBT Penerimaan Baru, Calon Taruna/i Politeknik Agraria STPN Ikuti Seleksi Lanjutan
Kumpulkan Jajaran di Jatim, Menteri Nusron: Masuki Periode Transformasi Organisasi dan Layanan, Tempatkan Rakyat sebagai Raja yang Harus Dilayani
Kanwil BPN Provinsi Jawa Tengah Ikuti Pelantikan Pejabat Struktural ATR/BPN Secara Daring
Sosialisasi Program Strategis ATR/BPN di Wonosobo Perkuat Kolaborasi Pelayanan Pertanahan
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:52 WIB

Kejari Rokan Hulu Selamatkan Rp1,38 Miliar Keuangan Negara dari Perkara Korupsi

Senin, 20 Juli 2026 - 13:45 WIB

Diduga Kerjasama Notaris & Pengembang Abaikan Sistem OSS, Langgar Hukum, Kode Etik Hingga Pemecetan.

Senin, 20 Juli 2026 - 12:43 WIB

Lantik 78 Pejabat Struktural, Wamen Ossy: Rotasi dan Promosi Jabatan Bentuk Birokrat yang Adaptif

Senin, 20 Juli 2026 - 12:42 WIB

Dampingi Presiden Prabowo Panen Raya di Malang, Menteri Nusron: Ketahanan Pangan Butuh Kepastian Hukum Tanah

Senin, 20 Juli 2026 - 12:24 WIB

Kumpulkan Jajaran di Jatim, Menteri Nusron: Masuki Periode Transformasi Organisasi dan Layanan, Tempatkan Rakyat sebagai Raja yang Harus Dilayani

Berita Terbaru